Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 26 Juli 2010

TIPE, DAN SIKAP SUPERVISOR DALAM PROSES SUPERVISI

A. Tipe-tipe supervisor


  1. Otoriter
    supervisor yang tergolong tipe ini mengganggap fungsinya adalah memberi perintah dan mengharapkan agar pelaksanaan tugas orang-orang yang disupervisi sesuai dengan apa yang ia tentukan. Ia berusaha mengadakan pengawasan secara cermat untuk menentukan segala kesalahan atau kekurangan yang mungkin dilakukan oleh orang-orang yang disupervisinya.

  2. Laissez-faire
    merupakan kebalikan dari tipe pertama. Supervisor memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada orang-orang yang disupervisi untuk menentukan tujuan prosedur dan metode-metode untuk mencapainya.

supervisor yang laissez faire menganggap fungsinya hanya sebagai orang yang memberikan kemudahan pada orang yang disupervisi, seperti menyediakan sarana dan alat yang dibutuhkan dalam proses kerjasama, atau menjadi penghubung dengan pihak yang ada di luar organisasi.

  1. Demokratis
    dalam proses supervisinya, supervisor selalu mengadakan konsultasi dengan bawahannya atau orang-orang yang disupervisi, terutama mengenai keputusan yang akan diambil, penetapan tujuan dan cara mencapainya. Supervisi biasanya berusaha menampung segala pendapat atau saran-saran yang dikemukakan para guru atau petugas sekolah lainnya, dalam rangka memperbaiki dan membina program-program sekolah. Hubungan antara guru dan supervisor Nampak akrab dan saling mempercayai, serta menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok yang disupervisi sehingga dalam proses perbaikan dan pengembangan nampak sekali dilakukan secara bersama-sama.

  2. Pseudo democratic (demokratis semu)

dalam prakteknya, supervisor kelihatannya bertindak secara demokratis; padahal sebenarnya otoriter. Walaupun segala sesuatunya Nampak lebih dulu dimusyawarahkan sebelum dilaksanakan, namun dengan segala tipu daya atau muslihatnya yang licik tetap semua keputusan yang diambil harus sesuai dengan dirinya.



B. Sikap-Sikap Supervisor


  1. Supervisi yang bersifat korektif

dalam proses supervisinya supervisor selalu mencari kesalahan-kesalahan atau kekurangan yang dilakukan oleh mereka yang disupervisi. Ia melakukan pengamatan dengan seksama untuk menilai apakah pekerjaan yang dilakukan sudah sesuai dengan apa yang telah diinstruksikan.

  1. Supervisi yang preventif

proses pengawasan atau supervisi pendidikan dijalankan untuk mencegah timbulnya penyimpangan-penyimpangan dari rencana-rencana semula. Sebelum suatu kegiatan dimulai, misalnya, supervisor, supervisor terlebih dulu memberikan saran-saran atau nasehat yang sangat berguna bagi kesempurnaan mekanisme kerja guru dalam rangka mencapai tujuan.



  1. Supervisi yang konstuktif

supervisi diarahkan pada usaha-usaha yang bersifat membimbing agar guru-guru maupun petugas sekolah lainnya dapat memperbaiki segala aspek pengajaran yang dipandang mempengaruhi kelancaran pengajaran. Dalam prakteknya supervisor yang bersikap demikian mempunyai rencana yang bersifat membangun bagi siapa saja yang disupervisi. Perhatian ditujukan pada apa yang kurang beres, bukan pada siapa yang bersalah.

  1. Supervisi yang kreatif

proses supervisi Nampak menerapkan pandangan atau pendekatan supervisi yang “human resource”. Supervisor selalu melibatkan guru-guru dalam pengambilan keputusan, penyusunan rencana dan pengembangan pengajaran. Mereka (guru-guru dan petugas sekolah lainnya) dianggap memiliki potensi-potensi yang perlu dikembangkan dan dimanfaatkan bagi perbaikan situasi belajar mengajar. Dalam memecahkan segala persoalan yang dihadapi. Misalnya, supervisor selalu menstimulir guru-guru untuk menggunakan segala daya kreativitas mereka untuk menanganinya.

Kegiatan-kegiatan nyata yang biasanya dilakukan oleh supervisor adalah:

  1. Memperlengkapi kepemimpinan orang-orang yang disupervisi

  2. Memberikan dorongan pada usaha-usaha yang kreatif

  3. Menumbuhkan rasa percaya diri pada orang-orang

  4. Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya pada mereka yang disupervisi untuk bertumbuh dan berkembang.

  1. Supervisi yang kooperatif

dalam proses supervisinya, supervisor lebih mementingkan kegiatan-kegiatan yang kooperatif. Penyusunan rencana, pengorganisasian kegiatan, penggerakan dan pengawasan selalu diselesaikan dengan bekerjasama. Partisipasi seluruh staf sekolah dalam menangani suatu persoalan sangat dipentingkan. Dalam konteks yang lebih luas, bahwa supervisor tidak hanya bekerjasama dengan para guru atau karyawan sekolah; melainkan punya hubungan yang lebih luas misalnya anggota masyarakat atau orang tua, pejabat setempat, para peneliti, dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar